Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
banner2
upbs
pustaka
kalender

Forum Litbang/Katalog Online

Kajian Empat Cara Pengendalian Hama Penggerek Batang Padi Putih di Kab. Toli-Toli Sulteng (APBN) PDF Print E-mail
Saturday, 12 September 2009 22:51

Latar Belakang

Beras adalah komoditas utama tanaman pangan di Sulawesi Tengah. Menurut BPS (2007), luas panen dan produksi padi sawah di Sulawesi Tengah pada tahun 2006 adalah berturut-turut 173.074 ha dan 725.945 ton dengan rata-rata produksi 4,19 t/ha. Sedangkan luas panen padi sawah di kabupaten Toli-Toli 2005 adalah 17.030 ha (Distanbunnak, 2006). Dari segi luas panen, kabupaten Toli-Toli menduduki urutan kelima dari 10 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah.

 

Salah satu kendala dalam peningkatan produksi beras di Sulawesi Tengah, khususnya di kabupaten Toli-Toli adalah adanya serangan penggerek batang padi yang seringkali menyerang pertanaman padi mulai dari pembibitan hingga fase produktif. Penggerek batang padi yang termasuk golongan Lepidoptera merupakan salah satu hama utama yang menyebabkan kerusakan dan kerugian hasil padi di Indonesia dan beberapa negara di Asia. Kehilangan hasil akibat serangan hama ini berkisar antara 60–90% (Pathak dan Khan, 1994). Di antara enam spesies hama penggerek batang padi di Indonesia, penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata Walker) dan penggerek batang padi kuning (S. incertulas Walker) merupakan spesies yang dominan. Dan yang menyerang tanaman padi di Toli-Toli adalah jenis penggerek batang padi putih. Pemakaian insektisida untuk pengendalian hama ini tidak berhasil, karena larva masuk ke dalam batang padi segera setelah telur menetas dan terus berkembang melalui beberapa tahapan menjadi pupa. 

 

Dasar Pertimbangan

Beberapa tahun terakhir ini hama penggerek batang padi putih (C. innotata) sangat meresahkan petani padi terutama di kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah karena hama ini menurunkan produksi padi yang sangat signifikan. Sejumlah varietas unggul baru telah ditanam oleh petani, namun tidak satupun yang menunjukkan ketahanan yang baik terhadap hama ini. Demi untuk menekan populasi hama tersebut, petani menggunakan insektisida secara berlebihan sehingga dikhawatirkan akan terjadinya pencemaran terhadap lingkungan. Dampak lain terhadap penggunaan insektisida secara berlebihan tersebut adalah terjadinya resistensi dan resurjensi hama tersebut.

 

Pengendalian OPT secara biologi dengan penggunaan musuh alami dianggap mempunyai prospek yang bagus, karena disamping tersedia di alam, juga ramah terhadap lingkungan. Trichogramma spp. adalah salah satu musuh alami yang selama ini telah berhasil mengendalikan serangan penggerek batang padi. Musuh alami ini merupakan parasitoid telur penggerek batang padi dan mampu menekan populasi penggerek batang padi hingga 90% (CABI, 2004). Selain itu penggunaan sex pheromone dan lampu perangkap telah banyak dicobakan di lapangan dengan tingkat keberhasilan dalam menekan serangan hama penggerek batang padi cukup baik.

 

Tujuan

Untuk mendapatkan cara pengendalian terhadap hama penggerek batang padi putih yang efektif dan ramah lingkungan.

 

Keluaran yang Diharapkan

Rekomendasi 1-2 cara pengendalian terhadap hama penggerek batang padi putih yang efektif dan ramah lingkungan di kabupaten Toli-Toli.

 

Keadaan Produksi Padi Sawah di Toli-Toli

Pembangunan Bidang Ekonomi yang dilakukan Pemerintah Sulawesi Tengah termasuk di kabupaten Toli-Toli diarahkan pada peningkatan sektor industri dengan didukung oleh sektor pertanian yang tangguh. Pembangunan di sektor pertanian menjadi lebih penting lagi disebabkan jumlah penduduk yang berusaha di bidang pertanian masih sangat besar. Angka produksi padi kabupaten Toli-Toli tahun 2005 sebanyak 65.757 ton dengan rata-rata produktivitas 3,72 t/ha. Bila dibandingkan pada tahun 2004 (produksi 70.515 ton dengan produktivitas 3,72 t/ha), produksi padi di Toli-Toli pada tahun 2005 mengalami penurunan walaupun produktivitasnya meningkat sedikit (BPS Sulawesi Tengah, 2007).

 

Penggerek Batang Padi

Penggerek batang padi adalah ulat yang hidup dalam batang padi. Hama ini berubah menjadi ngengat berwarna putih; biasanya 1 larva berada dalam 1 anakan. Ngengat aktif di malam hari. Larva betina menaruh 3 massa telur sepanjang 7-10 hari masa hidupnya sebagai organisme dewasa. Umumnya telur menetas di pagi hari dan jumlah telur pada setiap satu kelompok bervariasi dari 50 sampai 250 butir (CABI, 2004).

 

Penggerek batang dapat merusak pertanaman padi pada stadia apa saja, sejak persemaian sampai matang. Bila tanaman masih muda, daun-daun yang di tengah dari anakan yang rusak berwarna coklat dan mati. Kondisi ini disebut sundep. Bila kerusakan timbul setelah terbentuknya malai, maka malai berwarna putih dan disebut beluk.

 

Meski kerusakan terlihat parah, pengendalain sering dianggap tidak lagi ekonomis. Bila kerusakan sudah terlihat jelas, tindakan pengendalian sudah terlambat. Penggerek batang dapat menyebabkan merosotnya hasil padi karena tidak tergantikannya anakan yang rusak oleh sundep.

 

Pengendalian hama secara terpadu terhadap penggerek batang padi putih telah dipraktekkan secara tradisional sebelum filosofi IPM diperkenalkan (CABI, 2004), dan cara pengendalian yang paling efektif adalah yang berhubungan dengan budidaya tanaman (Hendarsih, 1992). Cara pengendalian lainnya yang telah pernah dilakukan adalah pengaturan waktu tanam, penggunaan varietas tahan, pengendalian secara mekanik dengan memotong batang sangat rendah, pengendalian secara biologi, kimiawi, dan semi kimiawi (CABI, 2004).

 

Pengendalian secara biologi adalah pengendalian dengan menggunakan parasitoid dan predator. Menurut CABI (2004), parasitoid telur adalah lebih penting di banding parasitoid larva atau pupa karena parasitisme telur dapat mencapai 90%.

 

Penggunaan insektisida hanya efektif jika diaplikasikan pada waktu yang tepat dengan memperhatikan siklus hidup penggerek batang padi putih dan fase pertumbuhan tanaman (CABI, 2004).

 

Sex pheromone untuk penggerek batang padi putih telah diidentifikasi mengandung Z11-18 aldehide (Beevor et al., 1993). Hasil penelitian menunjukkan bahwa insektisida bisa diaplikasikan secara efektif berdasarkan monitoring terhadap ngngat penggereng batang padi menggunakan perangkap sex pheromone (Hendarsih, 1992; CABI, 2004).

 

Pendekatan

Kajian ini menggunakan metode pendekatan penelitian di usahatani (on farm research) dan dilakukan secara partisipatif oleh petani.

 

Ruang Lingkup Kegiatan

Ruang lingkup kegiatan pengkajian ini meliputi: penentuan lokasi, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, pengamatan, tabulasi data, dan pembuatan laporan.

 

Last Updated on Tuesday, 27 October 2009 14:06
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com