| Kajian Peningkatan Intensitas Tanaman Padi Sawah Di Sulawesi Tengah (APBN) |
|
|
|
| Saturday, 12 September 2009 21:28 |
|
Latar Belakang Kebutuhan
bahan pangan terutama beras akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan
jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi perkapita akibat peningkatan
pendapatan. Namun di lain pihak upaya peningkatan produksi beras saat ini
terganjal oleh berbagai kendala, seperti konversi lahan sawah subur yang masih
terus berjalan, penyimpangan iklim (anomali iklim), gejala kelelahan teknologi
(technology fatique), penurunan kualitas sumberdaya lahan (soil sickness) yang
berdampak terhadap penurunan dan atau pelandaian produktivitas. Sistem produksi
padi saat ini juga sangat rentan terhadap penyimpangan iklim (El nino).
Penanganan masalah secara parsial yang telah ditempuh selama ini ternyata tidak
mampu mengatasi masalah yang kompleks dan juga tidak efisien (Kartaatmadja dan
Fagi dalam Pramono, et.al, 2005). Sebagai
komoditas ekonomi, padi diusahakan oleh lebih dari 18 juta petani, menyumbang
hampir 70% terhadap Produk Domestik Bruto tanaman pangan, memberikan kesempatan
kerja dan pendapatan bagi lebih dari 21 juta rumah tangga dengan sumbangan
pendapatan sekitar 25-35%. Oleh sebab itu, padi tetap menjadi komoditas
strategis dalam pembangunan pertanian. Walaupun daya saing padi terhadap
beberapa komoditas pertanian lain cenderung turun, upaya peningkatan produksi
padi mutlak diperlukan karena sangat terkait dengan ketahanan pangan nasional (Anonim,
2006.). Peningkatan
produksi padi masih dapat diupayakan, melalui, peningkatan indeks pertanaman
(IP) dan produktivitas. Di beberapa daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah,
Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Lombok sebagian petani mengusahakan padi lima
kali dalam 2 tahun (IP 250) dan di lokasi tertentu bahkan tiga kali per tahun
(IP 300) karena air tersedia sepanjang musim. Program intensifikasi padi selama
ini terutama diarahkan pada lahan irigasi dengan suplai air yang terjamin.
Meskipun tidak dianjurkan, lahan sawah dengan IP padi 200 dapat ditingkatkan
menjadi IP padi 300 apabila air hujan atau air irigasi mencukupi (Hasanuddin,
2003). Indeks
Pertanaman Padi menurut Irianto (2008) bahkan bisa ditingkatkan menjadi IP Padi
400. Pengembangan indeks pertanaman padi 400 (IP Padi 400) merupakan pilihan
menjanjikan guna meningkatkan produksi padi nasional tanpa memerlukan tambahan irigasi
luar biasa. IP Padi 400 artinya petani dapat panen padi empat kali setahun di
lokasi yang sama. Konsekuensi pengembangan IP Padi 400, diperlukan empat pilar
pendukung. Pertama, produksi benih super genjah dengan umur kurang dari 80
hari. Kedua, dukungan pengendalian Dasar
pertimbangan pengembangan IP Padi 400, dengan tersedianya varietas super
genjah, maka selain dapat memaksimalkan IP Padi 400 juga untuk mendongkrak IP padi antara 50-150 pada lahan tadah hujan,
irigasi pedesaan, dan irigasi sederhana. Artinya, akan ada tambahan panen 1-3
kali di lahan sawah. IP Padi 400
dapat memecah kejenuhan peningkatan produksi (levelling off) dalam peningkatan
produksi beras nasional (P2BN), bahkan Saat ini
Balai Besar Penelitian Padi Badan Litbang Pertanian telah memiliki galur (calon
varietas) dengan umur 85 hari meski produktivitasnya masih di bawah Berdasarkan
hal di atas, dipandang perlu dilakukan pengkajian peningkatan intensitas tanam
padi di Sulawesi Tengah khususnya di Kabupaten Parigi Moutong mengingat bahwa
Parigi Moutong merupakan salah satu sentra lumbung padi di Sulawesi Tengah. Pengkajian
diharapkan memperoleh manfaat dan dampak pada saat ini dan masa yang akan
datang. Potensi manfaat yang diharapkan apabila
pengkajian ini berhasil adalah produksi dapat meningkat, pendapatan petani
meningkat, dapat memberi sumbangan kebutuhan pangan secara nasional. Dasar Pertimbangan Kebutuhan
akan pangan semakin tinggi sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk 1,3
persen/tahun dari 220 juta penduduk Untuk
memenuhi kebutuhan pertambahan penduduk tahun 2009 harus ada tambahan produksi 5,5 juta ton
beras, meliputi 1,5 juta ton beras untuk cadangan nasional, 1-2 juta ton beras
akan diekspor, 3 juta ton beras (Irianto, 2008). Selain itu, upaya peningkatan
produksi melalui perluasan areal tanaman pangan pada saat sekarang khususnya
untuk peningkatan produksi pangan dihadapkan pada kendala pelandaian
produktivitas (leveling off) dan menciutnya luas lahan sawah akibat beralih
fungsi lahan pertanian ke non pertanian. Selain itu Belum optimalnya penggunaan
lahan, masih ada waktu bera (padi-padi-bera) sehingga peluang untuk
memanfaatkan masih terbuka dan peningkatan pola tanam juga dapat meningkatkan pemanfaatan
lahan sehingga memberi tambahan produktifitas dan peluang kesempatan kerja Pertimbangan
ini menuntut perlunya pengkajian peningkatan intensitas tanam IP300-400.
Pengkajian diharapkan memperoleh manfaat dan dampak pada saat ini dan masa yang
akan datang. Potensi manfaat yang
diharapkan apabila pengkajian ini berhasil produksi dapat meningkat, pendapatan
petani meningkat, dapat memberi sumbangan kebutuhan pangan secara nasional.
Disamping itu menghasilkan devisa
sekaligus mengubah citra Memperhatikan
potensi, manfaat dan dampak peningkatan produksi maka peluang pengkajian ini
diadopsi oleh pengambil kebijakan terutama oleh Pemda (Dinas Pertanian Tanaman
Pangan) dalam rangka menetapkan suatu kebijakan Sulawesi Tengah sebagai sentra
produksi padi dan petani sawah sebagai pelaku usahatani yang akan mengadopsi
teknologi secara luas. Tujuan Umum (Akhir) Meningkatkan
intensitas tanam padi sawah dari IP200 menjadi IP300 di lokasi Prima Tani di
Kabupaten Parigi Moutong Luaran Umum Meningkatnya
intensitas tanam padi sawah dari IP200 menjadi IP300 di lokasi Prima Tani di
Kabupaten Parigi Moutong Perkiraan Manfaat dan Dampak Perkiraan manfaat
dan potensi yang akan dicapai baik dampak langsung maupun tidak langsung yang
diharapkan dalam kegiatan ini yaitu: (1) Varietas super genjah (umur pendek)
akan tersebar ke sentra-sentra produksi padi sehingga ke depan akan memberikan
kontribusi nyata dalam peningkatan mutu genetik padi di Sulawesi Tengah;(2) Produktifitas
padi dan pendapatan usahatani akan meningkat minimal 25%; (3) Pola ini dapat menjadi acuan untuk
peningkatan produksi melalui intensitas tanam IP padi 300-400 dan sekaligus
sebagai rujukan Pemda dalam menyusun kebijakan. Kelompok
sasaran yang akan mendapat manfaat dan dampak dari kajian ini adalah kelompok
tani yang terlibat dalam pengkajian dan kelompok tani yang berada di sekitar
lokasi pengkajian. Penyebaran hasil kajian akan efektif jika dilakukan dengan
cara demplot sebagai usaha unit percontohan bagi petani yang tidak terlibat
pengkajian. Teknologi yang dihasilkan diharapkan dapat memperoleh peluang
adopsi lebih besar. Tinjauan Pustaka Badan
Litbang Pertanian telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi, antara lain
model pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah untuk mendukung upaya
peningkatan produksi padi nasional (Anonim, 2006). Pengelolaan Tanaman Terpadu
(Integrated Crop Management) atau lebih dikenal PTT pada padi sawah, merupakan
salah satu model atau pendekatan pengelolaan usahatani padi, dengan mengimplementasikan
berbagai komponen teknologi budidaya yang memberikan efek sinergis. PTT menggabungkan
semua komponen usahatani terpilih yang serasi dan saling komplementer, untuk
mendapatkan hasil panen optimal dan kelestarian lingkungan (Sumarno, et al., 2000).
Menurut
Sumarno dan Suyamto (1998), tindakan PTT merupakan good agronomic practices
yang antara lain meliputi; (a) penentuan pilihan komoditas adaptif sesuai
agroklimat dan musim tanam, (b) varietas unggul adaptif dan benih bermutu
tinggi, (c) pengelolaan tanah, air, hara dan tanaman secara optimal, (d)
pengendalian hama-penyakit secara terpadu, dan (e) penanganan panen dan pasca
panen secara tepat. Model PTT
terdiri dari beberapa komponen teknologi budidaya yang sinergis, yang dapat
diterapkan sesuai kondisi agroekosistem, antara lain adalah; (a) perlakuan
benih; (b) pemilihan varietas; (c) penanaman tunggal bibit muda; (c) jarak tanam lebih rapat; (d) sistem
pengairan; (e) penggunaan bahan organik; (f) penggunaan bagan warna daun dan
uji tanah dalam pemupukan; dan (g) pengendalian gulma dengan gosrok. Implementasi
model ini dilaporkan dapat meningkatkan hasil padi dari sekitar 5,6 menjadi 7,3
– 9,6 t/ha, dan pendapatan petani meningkat dari Rp, 1,6 juta menjadi Rp. 4,1
juta/ha (Puslitbangtan, 2000). Pengalaman serupa juga telah dilakukan di
Madagaskar, dengan pelaksanaan sistem intensifikasi padi (SRI) melalui
penerapan komponen-komponen teknologi secara terpadu (penanaman bibit muda 8-15
hari, pengaturan jarak tanam, penanaman 1 tanaman/lubang, pengairan
intermitent, pengendalian gulma sistem rotari) telah mampu meningkatkan hasil
padi antara 7 – 12 ton/ha, diatas rata-rata produksi nasional 2 ton/ha (Stoop
et al. 2000 : Fisher, 1998). Pengalaman
penerapan PTT di Sulawesi Tengah sangat menggembirakan dan membuka harapan yang
besar bagi peningkatan produktivitas dan pendapatan usahatani padi. Peningkatan
hasil gabah yang diperoleh sangat signifikan yakni dari rata-rata produksi
gabah non-PTT sekitar 3,5 t/ha meningkat hingga 6 t/ha dengan pendapatan sebesar
Rp 4.617.500/tahun dan nilai B/C sekitar 1,56. Sementara total biaya produksi
dari sistem usahatani menggunakan model PTT tidak terlalu jauh berbeda
dibandingkan cara petani non-PTT, yaitu Rp. 4,1 juta/ha dibanding Rp. 3,2
juta/ha pada non-PTT (Mario et al. 2005.) Pendekatan Kajian ini
menggunakan metode pendekatan penelitian usahatani (on farm), dilakukan secara
partisipatif dan akan diimplementasikan dalam skala pengembangan. Kajian ini
merupakan tahap lanjut untuk mendapatkan dan mengembangkan hasil penelitian
dalam skala ekonomi yang erat kaitannya dengan pengembangan sistem produksi. Pengkajian
dilaksanakan di lahan petani (on farm partisipatif) dengan pendekatan rumah
tangga petani sebagai kooperator dan non kooperator di luar pengkajian. Petani kooperator akan melaksanakan pola
tanam dari dua kali menjadi tiga kali dalam satu tahun dalam luasan yang sama
sedangkan petani non kooperator sebagai pembanding. Ruang Lingkup Untuk
mencapai tujuan pengkajian secara umum maka kegiatan pengkajian yang akan
dilaksanakan pada Tahun 2009 meliputi kegiatan peningkatan intensitas tanam dengan
mengubah jadwal tanam dan introduksi teknologi. 1. Peningkatan
intensitas tanam/ pola tanam Sebelum
pengkajian dilakukan, musim tanam (MT I dan MT II) sudah disesuaikan dengan
curah hujan dan jalur tanam yang telah direkomendasikan sehingga waktu tanam
ditetapkan MT I jatuh pada bulan Maret sampai Juni, sedangkan musim tanam MT II
jatuh pada bulan Agustus sampai November. Sehingga
antara musim tanam (MT I) dan musim tanam kedua (MT II) ada masa istirahat
yakni antara pertengahan bulan Juli sampai pertengahan bulan Agustus, begitu
juga antara musim tanam kedua (MT II) dan musim tanam (MT I) masa istirahat
pada pertengahan bulan Desember sampai
dengan pertengahan bulan Pebruari. Untuk mendukung kegiatan intensitas tanam
maka akan dijadwal kembali waktu tanam menjadi tiga kali dalam setahun. 2. Introduksi teknologi Kajian ini
dilakukan pada lokasi yang sama dengan perbaikan jadwal tanam dengan cara
introduksi teknologi berupa varietas super genjah (umur pendek), pengaturan dan
penggunaan air secara efisien, persemaian di luar, pengamatan dan pengendalian OPT
secara intensif, penanganan pasca panen dengan menggunakan alat pengering
apabila saat panen terjadi pada musim hujan. 3. Metode Kajian Intensitas Tanam
Padi Sawah Pengkajian
akan dilaksanakan pada lahan sawah irigasi di Kecamatan Torue Kabupaten Parigi
Moutong. Kegiatan akan dilaksanakan pada bulan Januari hingga Desember tahun
2009. |
| Last Updated on Tuesday, 27 October 2009 14:06 |