Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
RCP
banner2
pustaka
upbs
kalender

Forum Litbang/Katalog Online

Kajian Peningkatan Kualitas Bawang Merah Palu (APBN) PDF Print E-mail
Saturday, 12 September 2009 20:40

Latar Belakang

 

Hasil dileniasi zona agroekologi Sulawesi Tengah yang dilaksanakan oleh Syafruddin et al. (1999) menunjukkan bahwa lahan kering dataran rendah sebagian besar terletak pada zona III, IV, dan V yang dicirikan dengan curah hujan rendah, kelembaban udara rendah, suhu udara tinggi, dan tingkat penyinaran yang tinggi. Hasil dileniasi tersebut memperkirakan luas lahan kering dataran rendah yang dapat diusahakan untuk pertanian di Sulteng seluas 286.600 ha. Lembah Palu merupakan salah satu kawasan yang mempunyai prospek yang sangat baik untuk pengembangan tanaman sayuran karena berada pada pelembahan yang mempunyai sumber air yang berasal dari pegunungan yang mengelilinginya.

 

Selain itu ketersediaan air yang berasal dari sungai Palu yang mengalirkan air sepanjang tahun untuk irigasi. Luas kawasan ini diperkirakan 48.000 ha, yang sangat cocok untuk ditanami dengan tanaman hortikultura terutama sayur-sayuran dan buah-buahan, sekitar 10.000 ha yang sangat potensial untuk tanaman sayuran. Hal ini disebabkan kawasan ini memiliki potensi air tanah yang cukup besar, juga di kawasan ini pula terletak kota Palu ibu kota propinsi untuk memasarkan hasil. Selain Lembah Palu, Lembah Napu di kecamatan Larea Utara, kabupaten Poso serta Desa Salodik, kecamatan Luwuk mempunyai potensi lahan yang cukup baik untuk pengembangan tanaman sayur-sayuran terutama bawang merah.

 

Berbagai permasalahan nyata yang sedang dan akan dihadapi dalam pengelolaan lahan kering dataran rendah khususnya yang berkaitan dengan IPTEK menurut Diwyanto et al. (1998) antara lain : 1) masalah penyediaan produk untuk mencukupi kebutuhan pangan dan gizi masyarakat, 2) masalah peningkatan dan distribusi pendapatan petani, 3) masalah peningkatan produktivitas, efisiensi dan daya saing komoditi pertanian, 4) masalah tenaga kerja, kesempatan berusaha, 5) masalah penurunan kualitas sumberdaya pertanian, 6) belum tersedianya teknologi pertanian yang memadai, 7) belum diketahuinya sarana dan prasarana yang perlu dikembangkan, 8) keterbatasan SDM. Tantangan-tantangan tersebut perlu dipecahkan melalui penelitian dan pengembangan teknologi pertanian secara terpadu yang mencakup berbagai komoditas dan aspek sehingga dapat diwujudkan suatu sistem usaha pertanian spesifik lokasi yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif serta berkelanjutan.

 

Sektor pertanian di Sulawesi Tengah masih memberi andil dominan terhadap perekonomian daerah. Sektor pertanian memberikan sumbangan 44,29 % terhadap PDRB Sulawesi Tengah, khususnya sub sektor pertanian tanaman pangan dapat memberikan sumbangan sebesar 18,38 % terhadap PDRB Sulawesi Tengah.

 

Tanaman sayuran seperti bawang merah merupakan komoditas sayuran yang mempunyai arti penting bagi masyarakat baik dilihat dari nilai ekonominya yang tinggi maupun kandungan gizinya yang cukup tinggi. Sayuran merupakan sumber karbohidrat, vitamin, serta mineral yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh manusia apabila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup, selain itu tanaman ini umumnya dapat dijadikan bahan baku Industri (Nurtika, 1994).

 

Potensi lahan di Sulawesi Tengah masih cukup luas untuk tanaman sayur-sayuran khususnya bawang merah, juga ditunjang iklim seperti curah hujan dan suhu yang sesuai, serta sarana dan prasarana yang telah memadai. Disamping potensi tersebut, juga terdapat bawang merah jenis lokal yang telah lama dibudidayakan oleh petani khususnya di daerah Lembah Palu serta di daerah Tinombo, kabupaten Donggala (daerah pantai Timur). Jenis bawang ini dikenal dengan nama Bawang Merah Palu. Keunikan dan sifat yang spesifik dari bawang lokal ini adalah tetap gurih atau garing, serta aromanya tidak berubah walaupun disimpan lama, sehingga bawang merah ini khusus digunakan untuk pembuatan bawang goreng. 

 

Akibat berkembangnya penanaman jenis bawang merah Palu tersebut, di Lembah Palu dan sekitarnya, juga mulai berkembang industri pembuatan bawang goreng dengan skala rumah tangga yang dikerjakan oleh keluarga petani. Bawang goreng ini selain dikenal masyarakat di Sulawesi Tengah, juga sudah mulai dikenal di beberapa daerah seperti Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Sebagai akibat dari berkembangnya industri tersebut, para pengrajin membutuhkan bawang merah ini dalam jumlah yang lebih banyak, sehingga mendorong petani disekitarnya untuk menanam bawang tersebut.

 

Kendala utama yang ditemui dalam pengembangan bawang merah Palu adalah  produktivitas masih rendah hal ini disebabkan karena masih rendahnya penerapan teknologi budidaya seperti mutu bibit yang digunakan tidak seragam, tingkat pemeliharaan yang kurang intensif, pemupukan kurang memadai dan lengkap, serta pengendalian hama dan penyakit yang belum memadai. Kendala lain yang sangat menonjol adalah mutu hasil produksi bawang merah masih rendah, artinya kurang memenuhi standar kebutuhan konsumen, serta teknik pengolahan umbi yang masih perlu ditingkatkan mutunya.

 

Dari kajian ini para petani dihamparan pengkajian diharapkan secara bertahap dan cepat akan mengikuti/mengadopsi teknologi yang dikaji. Melalui pembinaan petani secara intensif, tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, serta mempunyai prospek pasar yang jelas maka diharapkan usaha ini akan berkembang pada skala ekonomi yang luas dan dikelola secara berkelanjutan.

 

Dasar Pertimbangan

Potensi lahan kering dataran rendah di Sulawesi Tengah cukup besar yaitu 77% dari 1.036.000 ha lahan kering yang ada. Aktivitas penduduk sebagian besar terkonsentrasi pada zona ini termasuk aktivitas perkotaan dengan penduduk yang padat yang memerlukan sumberdaya yang lebih besar dibanding zona lainnya. Salah satu contoh agroekosistem lahan kering dataran rendah yaitu Lembah Palu dimana terdapat kota Palu dengan aktivitas penduduk yang cukup besar. Ciri zona ini adalah curah hujan rendah sampai sedang, suhu relatif tinggi, penyinaran matahari tinggi, dan kelembaban udara relatif rendah. Sebagai kawasan dengan aktivitas penduduk yang tinggi mengakibatkan sering terjadinya pencemaran lingkungan antara lain pencemaran sampah kota akibat pengelolaan sampah yang kurang baik. Selain itu berbagai potensi yang ada belum dikelola secara baik misalnya masih banyaknya lahan yang terbengkalai, potensi air tanah yang belum dimanfaatkan, berbagai jenis hasil buangan dari sisa-sisa tanaman maupun hewan yang belum dimanfaatkan. Padahal bila dilihat dari potensi yang ada, baik itu dari segi biofisik maupun potensi pasar, wilayah ini mempunyai prospek untuk dikembangkan tanaman pangan, diantaranya tanaman sayuran terutama bawang merah.

 

Potensi lahan di Sulawesi Tengah masih cukup luas untuk tanaman sayur-sayuran khususnya bawang merah, juga ditunjang iklim seperti curah hujan dan suhu yang sesuai, serta sarana dan prasarana yang telah memadai. Khusus di Lembah Palu yang merupakan Sentra Pengembangan Komoditas Unggulan (SPAKU) bawang merah lokal Palu (bahan baku untuk pembuatan bawang goreng) mempunyai lahan yang berpotensi (2.608 ha) untuk pengembangan bawang merah, khususnya untuk bawang goreng yang meliputi 5 kecamatan di kabupaten Donggala dan 4 kecamatan di Kodya Palu. Type iklimnya adalah E1, E2 dan E3 (Oldeman dan Syarifuddin, 1977) mempunyai bulan kering lebih dari 4 bulan dengan curah hujan yang rendah yaitu 400-1000 mm/tahun dan suhu udara tergolong panas (rata-rata 30-35 0C). Bawang merah mudah membentuk umbi pada daerah yang suhu udaranya rata-rata 22o C, tetapi lebih baik pada suhu udara panas yang suhunya 32 - 340C (Rismunandar (1988). Lahan di daerah ini terdiri dari lahan kering dan lahan sawah. Kendala utama yang dihadapi apabila bawang merah ditanam khususnya di lahan kering adalah resiko kekurangan air. Sedangkan pada lahan sawah air tidak menjadi kendala karena ada pengairan.

 

Potensi wilayah Lembah Palu dapat ditingkatkan pemanfaatannya dengan menggunakan berbagai teknologi sumberdaya maupun budidaya yang terintegrasi, ramah lingkungan yang pada akhirnya dapat meningkatkan produksi dan pendapatan masyarakat.

 

Disamping potensi tersebut, juga terdapat bawang merah jenis lokal yang telah lama dibudidayakan oleh petani khususnya di daerah Lembah Palu serta di daerah Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong (daerah pantai Timur). Jenis bawang ini dikenal dengan nama Bawang Merah Palu. Keunikan dan sifat spesifik dari bawang ini adalah tetap gurih atau garing, serta aromanya tidak berubah walaupun disimpan lama, sehingga bawang merah ini khusus digunakan untuk pembuatan bawang goreng. Menurut Putrasamedja (1993), bahwa setiap daerah memiliki kultivar bawang merah spesifik daerah, dengan hasil yang dicapai masih rendah yaitu 4,1 ton/ha.

 

Selain itu, jenis sayuran yang ditetapkan oleh Dinas Pertanian Propinsi Sulawesi Tengah sebagai komoditas unggulan di Lembah Palu diantaranya adalah tanaman bawang merah. Pengembangan tanaman bawang merah khususnya varietas Palu di sekitar daerah perkotaan memberikan manfaat ganda selain hasil tanaman yang diperoleh dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, juga dapat meningkatkan industri rumah tangga terutama industri pembuatan bawang goreng.

 

Di Lembah Palu Sulawesi Tengah, tanaman bawang merah varietas Palu telah lama diusahakan oleh petani sebagai tanaman yang bertujuan komersil, yaitu dicirikan oleh sebagian besar hasil produknya ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar. Namun produksi yang dicapai ditingkat petani masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi produksi yang ada. Produktivitas bawang merah Palu di tingkat petani masih rendah yaitu sekitar 4,1 t/ha. Produktivitas tersebut masih sangat rendah apabila dibanding dengan potensi produksi yang dapat mencapai 10-11 ton/ha (Maskar, 2000; Kasijadi dan Soleh, 1996; Suwandi, 1989; Suwandi 1996).

 

Namun belakangan ini keberadaan bawang merah tersebut mulai berkurang. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya kualitas penggunaan benih yang asalan (dalam artian, umur dan ukuran benih yang beragam) Untuk itu, diperlukan suatu kajian tentang berapa hari umur panen yang paling baik untuk digunakan sebagai bibit dan berapa ukurannya. Selain itu, rekomendasi jenis dan takaran pupuk baik pupuk organik maupun pupuk anorganik (pupuk buatan) yang belum optimal. Selanjutnya adanya serangan hama pada tanaman tersebut. Hama utama tanaman bawang merah lokal adalah ulat grayak (Spodoptera exigua dan S. Litura) dan lalat penggorok daun (Liriomyza chinencis) (Lee et al., 1991). Kehilangan hasil yang disebabkan oleh hama-hama tersebut bisa mencapai 20-100%. Gejala serangan S. exigua yang disebabkan oleh larva ditandai dengan adanya lubang pada daun yang dimulai dari tepi daun permukaan atas atau bawah, bila serangan berat maka seluruh bagian daun dimakan (Duriat et al., 1994). Larva S. exigua berukuran panjang 2.5 cm dengan warna yang variasi, larva muda berwarna hijau kecoklatan dengan garis kekuning-kuningan, larva mempunyai sifat polyphag (pemakan segala). Gejala serangan S. litura ditandai dengan adanya lubang pada daun yang ditimbulkan oleh larva yang masuk dan makan bagian dalam daun (Hadisoeganda, 1995). Larva S. chinensis berwarna putih susu atau kekuningan, gejala daun yang terserang berupa bintik-bintik putih akibat tusukan ovipositor, dan berupa liang korokan larva yang berkelok-kelok. Pengendalian hama-hama tersebut dianjurkan menggunakan konsep PHT (Pengendalian Hama Terpadu), yang mana penggunaan insektisida merupakan alternatif terakhir. Namun di Sulawesi Tengah, umumnya petani menggunakan insektisida dengan sangat berlebih, bahkan jenisnyapun masih banyak yang mempunyai daya racun yang tinggi bagi golongan mamalia termasuk manusia (Dibyantoro dan Woodfood, 1981 dalam Dibyantoro, 2003).

 

Potensi yang ada ditinjau dari kespesifikan lokasi tumbuh dan pasar yang terbuka luas. Namun potensi pasar yang potensial, lebih banyak dinikmati oleh pedagang pengumpul yang sekaligus berperan sebagai penghasil produk akhir bawang goreng. Petani tetap dihadapkan pada masalah berfluktuasinya harga bawang merah lokal Palu sehingga posisi tawar (bargaining posisition) petani rendah yang menyebabkan petani mendapatkan nilai jual bawang merah lokal Palu yang rendah. Salah satu penyebabnya yaitu tidak adanya sistem standarisasi kualitas dalam pemasaran bawang merah lokal Palu. Pedagang menetapkan kelas-kelas grading dengan perbedaan harga yang cukup tinggi dan bervariasi antar pedagang. Perbaikan dalam sistem pemasaran merupakan penting dalam upaya peningkatan perbaikan kesejahteraan petani. Akan tetapi aspek ini sering terlupakan dalam pembuatan kebijakan-kebijakan yang bersifat strategis. Implikasinya, para petani sebagai pelaku produksi, keberadaannya selalu pada posisi termarginalkan sebagai akibat keterbatasan yang dimilikinya. Hal ini karena kurang adanya pemahaman kondisi pasar pada tingkat petani. Secara deskriptif, analisis ini diharapkan dapat merefleksikan posisi tawar produsen dalam sistem pemasaran yang ada dan upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pemasaran.  

 

Tujuan

a. Tujuan Umum

 Untuk meningkatan kualitas produksi serta meningkatkan pendapatan petani yang mengusahakan tanaman bawang merah varietas Palu melalui perbaikan budidaya yang berwawasan lingkungan pada agroekosistem lahan kering dataran rendah.  

 

 b. Tujuan Tahunan

 Untuk mendapatkan rekomendasi pemupukan organik dan anorganik, rekomendasi umur dan ukuran bibit, rekomendasi agen hayati yang efektif, efisien mudah dilakukan dan ramah lingkungan dalam mengendalikan hama dan penyakit, serta kualitas bibit dalam sistem grading di tingkat petani.

 

Luaran

a. Luaran Umum

Didapatkannya kualitas produksi serta meningkatkan pendapatan petani yang mengusahakan tanaman bawang merah varietas Palu melalui perbaikan budidaya yang berwawasan lingkungan pada agroekosistem lahan kering dataran rendah.

 

b. Luaran Tahunan

· Didapatkannya rekomendasi pemupukan organik dan anorganik yang dapat meningkatkan produktivitas 20% dan kualitas bawang merah varietas Palu

· Didapatkannya rekomendasi umur dan ukuran umbi untuk jadi bibit dalam upaya meningkatkan persentase bibit yang tumbuh

· Didapatkannya rekomendasi agen hayati yang efektif, efisien mudah dilakukan dan ramah lingkungan dalam mengendalikan hama dan penyakit

· Didapatkannya kualitas bibit dalam sistem grading di tingkat petani, sehingga harga jual petani meningkat 10 %.

 

Perkiraan Manfaat Dan Dampak

Kajian ini diharapkan dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas produksi serta dapat meningkatkan pendapatan petani melalui perbaikan kualitas umbi bawang merah varietas Palu secara berkelanjutan. Diharapkan dari kegiatan kajian ini akan dapat membudayakan penggunaan teknologi budidaya  yang dapat menjamin kontinuitas bawang merah varietas Palu untuk kebutuhan lokal maupun ekspor sesuai permintaan pasar.

 

Perkiraan nilai tambah dari kajian ini adalah : (1) dapat menyerap tenaga kerja karena umumnya bersifat padat karya, (2) mengembangkan/meningkatkan potensi lahan kering yang dikekelola secara konvensional, (3) dapat menambah penghasilan petani, dan (4) sebagai penyiapan bahan baku berpotensi tinggi bagi industri rumah tangga pembuatan bawang goreng, sehingga dapat dieskpor untuk menambah devisa negara. Dari aspek ekonomi dapat meningkatkan pendapatan petani dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di lahan kering secara efisien. Dengan demikian pemanfaatan sumberdaya lahan kering dapat dioptimalkan secara berkelanjutan (sustainable).

 

Peluang diadopsinya teknologi ini cukup besar, minimal berkembangnya penggunaan teknologi budidaya tanaman bawang merah varietas Palu. Dengan demikian diharapkan pertumbuhan cabang usaha yang dapat menggerakkan ekonomi kerakyatan/meningkatkan pendapatan daerah dan masyarakat tani 25%.

 

Ruang Lingkup

Kegiatan pengkajian yang akan dilaksanakan pada TA. 2009 meliputi empat kegiatan yang saling terkait satu dengan yang lainnya dan dilaksanakan pada kawasan lahan kering dataran rendah. Keempat kegiatan ini meliputi :

1. Kajian teknologi pemupukan bawang merah varietas lokal palu

2. Kajian teknologi umur dan ukuran benih bawang merah varietas lokal palu bawang merah varietas lokal palu

3. Kajian efektivitas agen hayati untuk pengendalian hama dan penyakit bawang merah lokal palu

4. Analisis praktek grading sebagai dasar standarisasi kualitas dalam pemasaran bawang merah varietas lokal palu

Last Updated on Tuesday, 27 October 2009 14:05
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com